Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2008

Songa Adventure

Mengunjungi bumi Probolinggo saat ini ibarat menyusuri kembali perjalanan Hayam Wuruk lebih dari 500 tahun silam. Konon, menurut cerita rakyat, tak lama setelah Mahapatih Gadjah Mada dari Kerajaan Majapahit berhasil menyatukan wilayah Nusantara di tahun 1357 Masehi, Raja Hayam Wuruk adalah orang pertama yang menjadi saksi atas keindahan panorama alam Probolinggo.

Lantaran kagum dan terpesona oleh keindahan panorama di sana, Hayam Wuruk sempat berlama-lama bercengkerama di tempat itu. Tempat Hayam Wuruk bercengkerama itu kemudian disebut sebagai prabu linggih, yang lambat laun mengalami perubahan lafal menjadi Probolinggo. Dan....starting point yang dipakai Songa Rafting salah satu yang disinyalir sering dipakai mandi Mahapatih Gadjah Mada.

Sungai Pekalen, terletak 25 km dari kota Probolinggo tepatnya terbentang di antara tiga kecamatan berturut-turut yaitu kecamatan Tiris, kecamatan Maron, dan kecamatan Gading. Bantaran sungai yang bisa diarungi berjarak 29 km yang terbagi atas 3 area. Dan Songa membagi paketnya menjadi 3 bagian ; Sungai Pekalen Atas berjarak 12 km, Sungai Pekalen Tengah berjarak 7 km, dan Sungai Pekalen Bawah berjarak 10 km.

Karakteristik sungai berbelok dan bertebing, Panorama alam yang indah, puluhan jeram (grade 2 s/d 3+) yang exotic dan menantang, kemegahan air terjun, dan kemolekan gua-gua kelelawar, serta masih ditemuinya beberapa satwa langka seperti burung elang, burung kepodang, monyet, biawak, linsang, tupai dll menjadi daya tarik tersendiri yang dapat Anda nikmati selama perjalanan.

Taman Wisata Studi Lingkungan

Taman Wisata Studi Lingkungan yang berlokasi di eks Joboan ini kembali mendapatkan sentuhan dari Pemerintah Kota Probolinggo. Untuk menambah koleksi satwa di TWSL, kali ini Pemerintah Kota berencana akan mendatangkan beruang madu pada bulan ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Walikota Probolinggo, HM Buchori SH Msi ketika ditemui di TWSL (6/2). Sampai dengan akhir tahun 2008 tempat rekreasi yang sedang digandrungi masyarakat itu akan dilengkapi dengan koleksi satwa langka yaitu mulai dari macan tutul, burung kasuari,elang laut dan lain-lain.

Namun demikian, Walikota Buchori menegaskan pemerintah tidak akan menerima koleksi seperti singa, gajah dan jerapah. Dikarenakan perlu adanya penanganan khusus pada satwa tersebut, baik pada makanan dan perawatannya.

”Untuk memberikan pengetahuan pada anak sekolah tentang ikan dan hewan laut lainnya, pemerintah akan membuat akuarium untuk ikan air tawar dan air laut. Jadi mereka bisa lebih tahu berbagai jenis ikan, selama ini kan hanya tahu lewat televisi saja dan media cetak saja,” terang Buchori.

Walikota Buchori juga menjelaskan bahwa akuarium tersebut akan dibuat memanjang dari selatan sampai ke utara, disepanjang tembok sebelah timur. Pengunjungpun bisa secara jelas melihat berbagai macam jenis ikan.

Tidak hanya itu, untuk memberikan kesempatan bagi penjual bunga yang masih belum mempunyai tempat khusus untuk berjualan, pemerintah juga akan memberikan tempat yaitu pasar bunga di sebelah timur TWSL.

”Jadi nanti akan dibuatkan jalan tembus dari TWSL ke pasar bunga. Bahkan nantinya disebelah timur pasar bunga juga akan dibuat pula pasar burung, karena pasar burung Randupangger sekarang sesak bercampur dengan pasar tradisional. Pasar Randupangger nanti hanya khusus untuk pasar tradisional,” tambah Walikota.

Sementara itu ketika ditemui Suara Kota, Kepala UPTD PISL pada Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo, Ir Fitriawati, mulai Januari 2008 Pemerintah kota Probolinggo telah menetapkan tarif masuk TWSL.

”Untuk anak-anak sampai dengan usia 12 tahun dikenakan tarif 1000 rupiah dan dewasa 2000 rupiah. Hal tersebut telah sesuai dengan peraturan Walikota Probolinggo no 50 tahun 2007. Namun ada pengecualian untuk anak-anak sekolah yang akan melakukan studi di taman wisata tersebut akan mendapat potongan harga,”jelas perempuan berkerudung ini.

Abdullah, 40 th, warga Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo ketika ditemui Suara Kota di TWSL (9/2) mengatakan bahwa penarikan retribusi tersebut masih dalam batas wajar untuk biaya operasional di tempat tersebut. Mengingat satwa-satwa yang ada tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk makanannya.

Jumat, 19 Desember 2008

Pulau Gili Ketapang

Ketapang (atau dikenal dengan sebutan Gili Ketapang) adalah sebuah pulau kecil di Selat Madura , tepatnya 8 km di lepas pantai utara Probolinggo. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Sumberasih, Probolinggo , Kabupaten Probolinggo , Jawa Timur . Luas wilayahnya sekitar 68 ha, dan jumlah penduduknya 7.600 jiwa (2004), yang sebagian besar adalah Suku Madura dan bermatapencaharian sebagai nelayan. Penduduk pulau ini dikenal relatif makmur.

Gili Ketapang merupakan salah satu tujuan wisata alam di Kabupaten Probolinggo. Pulau terebut dihubungkan dengan Pulau Jawa dengan perahu motor melalui Pelabuhan Tanjung Tembaga , Kota Probolinggo , dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Menurut legenda setempat, pulau ini dulunya menyatu dengan daratan Desa Ketapang (Pulau Jawa ), yang kemudian secara gaib bergerak lamban ke tengah laut, karena gempa yang dahsyat akibat letusan Gunung Semeru . Nama Gili Ketapang berasal dari Bahasa Madura, gili yang artinya mengalir, dan Ketapang merupakan nama asal desa tersebut.

Pantai Bentar Probolinggo

Wisata Probolinggo, Bentar Indah adalah obyek wisata Pantai yang terletak di tepi jalan Surabaya Banyuwangi, Kecamatan Gending 7 Kilometer dari Kota Probolinggo, ke arah timur. Pantai Bentar sangat potensial mengingat lokasi merupakan lintasan wisata overland Jawa-Bali, bisa dikembangkan menjadi semacam resort. Di sekitar pantai direncanakan akan didirikan Hotel Terapung lengkap dengan fasilitas penunjang lainnya berupa water sport, sea aquarium, play ground, swimming pool, mangroves forest, fish pond dll. Apalagi di sepanjang perjalanan dari Surabaya-Bali hanya ada satu stop over bagi wisatawan, yaitu Pantai Pasir Putih (Situbondo). Makanya Bentar Indah dianggap cukup menjanjikan, khususnya bagi pengusaha restorant dan perhotelan.


Letaknya berada di tikungan jalan raya, berseberangan dengan bukit. Dari atas bukit, nampak lokasi Bentar Indah berada dibibir pantai dengan latar belakang pemandangan laut yang sangat indah. Disebelah timurnya terdapat hutan bakau yang diperluas untuk tambak tradisional untuk benih udang dan ikan laut. Wisatawan dapat memancing, dengan membayar sewa pemancingan. Dimasa mendatang rencananya perjalanan dari Probolinggo menuju Pulau Gili Ketapang akan dialihkan ke Pantai Bentar Indah.

Danau Ranu Agung

Ranu Agung terletak sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Dari ketinggian, ranu yang ukurannya lebih besar daripada Ranu Segaran itu terlihat jauh lebih indah. Bibir danau yang ditumbuhi pepohonan, menyambung dengan kaki langit yang menciptakan cakrawala pandang yang menakjubkan. Langit biru yang bersih terlihat kontras dengan hijaunya air danau yang memantulkan sinar matahari.

Detak waktu pun dalam sekejap seolah lenyap ditelan hening Ranu Agung. Airnya yang berwarna kehijauan seperti menyimpan misteri yang siap menelan apa saja yang ada di sekitarnya. Sebuah tebing setinggi sekitar 100 meter mungkin bisa dipilih petualang sejati untuk membuktikan nyali mereka dengan terjun bebas ke danau.

Hanya dengan duduk diam dalam hening, keindahan Ranu Agung rasanya seperti tercecap hingga urat nadi. Di sini bisa dibangun sebuah komunikasi yang intens antara anak manusia dan Penciptanya. Di antara ingatan akan kemacetan lalu lintas di kota besar, Ranu Agung bisa menjadi sebuah istirah yang ampuh.

ranu agung

Air Terjun Madakaripura

Kawasan wisata Gunung Bromo ternyata menyimpan satu lokasi wisata yang unik dan menawan. Lokasinya tidak jauh dari lautan pasir Bromo, hanya sekitar 45 menit ke arah Probolinggo (ke Utara). Namanya adalah air terjun Madakaripura. Menurut penduduk setempat nama ini diambil dari cerita pada jaman dahulu, konon Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di air tejun ini. Cerita ini didukung dengan adanya arca Gajah Mada di tempat parkir area tersebut. Untuk mencapai tempat wisata ini tidak terlalu sulit. Sebaiknya kunjungan dilakukan bila kita akan ke Bromo dari arah Probolinggo dikarenakan searah dengan perjalanan atau saat berada di Bromo dan dilakukan pagi hari. Lokasi bisa dicapai dengan kendaraan pribadi atau mobil sewaan (dari Probolinggo menyewa Panther Rp 150.000,- pp + supir, 12/2003). Jika kita datang dari arah Probolinggo maka sesampai di Desa Sukapura kita belok kanan., kita akan melewati jalan aspal dengan suguhan pemandangan pada bagaian kiri-kanan berupa gunung tinggi yang menyegarkan mata. Kurang lebih setelah sekitar 5 km melakukan perjalanan, kita akan bertemu dengan pintu masuk kawasan wisata air terjun Madakaripura yang ditandai dengan tempat parkir yang luas dan patung Gajah Mada. Disini, banyak penduduk lokal yang menawarkan diri menjadi 'guide' yang akan menemani sambil menceritakan sejarah objek wisata tersebut hingga kita balik lagi ke tempat parkir.

Selanjutnya kita harus berjalan kira-kira 15 menit, melewati jalan setapak terbuat dari semen yang berbatu sehingga kalau basah tidak akan licin. Saat berjalan kaki ini kita juga disuguhi pemandangan indah dan menyejukkan, di samping kanan kita ada aliran sungai berbatu-batu, di kanan kiri kita diapit tebing tinggi dengan pepohonan lebat beserta iringan kicauan burung dan derikan kumbang. Terkadang di beberapa bagian jalan, terhalang oleh pohon rubuh atau ada bekas longsoran, meskipun demikian jalan ini relatif datar dan dapat dijalani dengan mudah, kalau kecapekan ada beberapa tempat di sepanjang jalan yang bisa digunakan untuk duduk-duduk beristirahat.

Saat tiba di lokasi air terjun kita akan bertemu dengan warung kecil, pos penjaga dan toilet (bisa ganti baju), disitu terdapat pula penyewaan payung bila kita tidak ingin terlalu basah kuyup. Air terjun ini berawal dari air yang mengalir dari tebing memanjang dan membentuk tirai, sehingga kita bisa berpayung ria berjalan di bawahnya. Di ujungnya, kita akan bertemu dengan sebuah ruangan berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira 25 meter.

Berdiri di dalam ruangan alam ini kita akan merasa seolah berada di dasar sebuah tabung, dimana terdapat air terjun dengan ketinggian sekitar 200 meter, dengan limpahan air yang jatuh dengan derasnya dari atas dan berubah menjadi selembut kapas ke kolam berwarna kehijauan. Air yang jatuh di kolam ini menimbulkan bunyi yang berirama, terkadang bunyi yang ditimbulkannya lebih keras dikarenakan air yang jatuh lebih deras. Keunikan dan kesejukan air terjun ini membuat kita betah berlama-lama memandanginya.

Untuk anda penggemar fotografi, lokasi ini bisa menjadi obyek yang tidak habis-habisnya, mulai dari pintu masuk kedatangan hingga suasana air terjun yang seolah dalam tabung.

Beberapa orang di Probolinggo baik di hotel maupun di travel agent yang kami tanyai mengenai air terjun ini mengaku belum pernah berkunjung kesana. Hal ini mungkin disebabkan karena bentuk air terjun ini yang bila terjadi longsor atau banjir, maka kita yang berada di dasar tabung tersebut akan terperangkap. Sehingga berada di 'tabung' ini perasaan kita akan bercampur aduk antara kagum pada keindahan alam ini dan was-was. Melihat kondisi seperti ini jika diperkirakan akan terjadi longsor atau banjir, kawasan objek wisata Madakaripura ini akan ditutup untuk pengunjung.

Sesudah puas main air dan kedinginan, kita bisa menikmati minuman panas di warung dekat air terjun sebelum berjalan kaki lagi menuju tempat parkir. Secara umum tempat ini telah dikelola dengan cukup baik, dapat dicapai lewat jalan aspal yang mulus, jalan setapak yang nyaman, fasilitas umum seperti kamar mandi, mesjid dan tempat parkir. Namun kurangnya informasi mengenai tempat ini dan jaminan keamanan yang belum ada mengakibatkan jarang orang tahu dan mau berkunjung ke kawasan wisata ini. Dengan promosi yang cukup, pengunjung Bromo akan dapat menambah daftar tujuan wisatanya.

Agrowisata di Probolinggo

Pariwisata Probolinggo identik dengan Bromo-nya yang sudah mendunia. Selain itu, ‘kota angin’ ini juga terkenal dengan mangga dan anggurnya yang potensial menjadi wisata agro.

Dianugerahi tanah yang subur, serta kekayaan alam yang berlimpah, Probolinggo sepantasnya menjadi destinasi pariwisata unggulan di Jawa Timur.

Selain ‘menjual’ Bromo sebagai destinasi pariwisata unggulan dan Pantai Bentar serta wisata rafting sungai Pekalen, Probolinggo juga memiliki wisata agro yang potensial menjadi daya tarik wisata.

Mangga dan anggur sudah menjadi komoditas unggulan sektor pertanian masyarakat Probolinggo. Buah-buahan ini namanya seharum rasanya.

Probolinggo sedang giat membangun daerahnya menuju kota pariwisata. Kota ini berusaha mengeksplorasi semua sumber daya daerahnya untuk bisa ‘menghasilkan’, dalam artian dapat menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah (PAD).